Kebudayaan Indonesia Dirampas Malaysia

By Fajar Muhamad Gustav

Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekertayaitu buddhayan yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal diartikan sebagai hal –hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris kebudayaan disebut culture yang berasal dari kata LatinColere yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture kadang diterjemahkan sebagai kultur dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan olehkebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri (Cultural-Determinism). Melville J. Herkovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok , yaitu, alat – alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuasaan politik. Sedangkan Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok meliputi sistem norma sosial, organisasi ekonomi, lembaga, dan organisasi politik.
Republik Indonesia atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara terletak di garis khatulistiwa dan berada diantara benua Asia dan Australia, serta diapit oleh Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Karena diapit oleh dua benua dan dua samudra, Indonesia disebut dengan “Nusantara” (Kepulauan Antara). Dengan 17.508 pulau, Indonesia adalah negara kepualauan terbesar di Indonesia dengan 222 juta penduduk pada tahun 2006. Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Bentuk Pemerintahan Indonesia adalah republik dengan DPR dan Presiden yang dipilih langsung. Indonesia memiliki beberapa negara tetangga, yaitu Singpura, Filipina , Australia, wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar, dan Malaysia.
Indonesia memiliki berbagai suku, bahasa, dan agama, namun hal itu tidak menjadi kendala karena indonesia memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika. Bermacam – macam suku, bahasa, dan agama, membuat Indonesia memiliki berbagaai kebudayaan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Beberapa contoh kebudayaan yang dimiliki Indonesia adalah Batik baik dari Yogyakarta, Solo, Pekalongan, dan derah sekitarnya, kemudian Reog Ponorogo yang tentunya berasal dari Ponorogo, Tari Pendet yang berasal dari Bali, lagu daerah Rasa Sayange yang berasal dari Maluku. Kebudayaan-kebudayaan yang disebutkan di atas adalah kebudayaan – kebudayaan Indonesia yang diklaim oleh Malaysia. Tidak hanya kebudayaan Indonesia yang diambil oleh Malaysia, mulai dari Ambalat, wilayah Indonesia yang selalu diperebutkan oleh Malaysia, sampai dengan karya anak bangsa Indonesia yaitu lagu “Terang Bulan” yang diklaim dan diganti liriknya menjadi lagu kebangsaan Malaysia, “Negaraku”.
Kita patut merasa tersinggung , terusik, dan marah karena ulah Malaysia. Namun hendaknya kita merasa kasihan dengan bangsa tetangga kita yang bernama Malaysia itu. Karena sedikitnya kebudayaan yang mereka miliki, dan ditambah dengan rasa kagumnya yang besar terhadap bangsa Indonesia, Malaysia pun rela mengesampingkan harga diri bangsanya sendiri demi mengangkat nama Malaysia di tingkat dunia dengan menggembor-gemborkan slogan “Malaysia Truly Asia”. Betapa kasihannya tetangga kita itu, Malaysia pun rela menjadi imitasi dari Indonesia atau lebih kasarnya hanya sebagai tiruan dari Indonesia. Menurut saya, Malaysia tidak akan bisa berkembang menjadi sampai saat ini tanpa bantuan Indonesia, sebagai contoh, Malaysia sangat membutuhkan uluran tangan dari Indonesia melalui TKI yang berada di Malaysia, dan segala perbuatan yang dilakukan Malaysia baik mengklaim kebudayaan dan wilayah Indonesia, hanya bertujuan untuk meminta perhatian dari negara kita, mereka membutuhkan uluran tangan Indonesia.
Banyak masyarakat kita yang mengecam Malaysia, bahkan meneriakkan “Ganyang Malaysia”. Kita sebagai mahasiswa harus bisa menjembatani semua itu, tentunya dengan berbagai upaya agar masyarakat mengerti bahwa kekerasan bukanlah satu-satunya penyelesaian. Terlebih dahulu kita harus melakukan langkah diplomasi. Namun sebelum kita memperbaiki hubungan Indonesia-Malaysia, sebaiknya kita membina hubungan antar daerah, etnis, dan agama, sehingga terbentuk rasa kekeluargaan dan rasa ingin melindungi satu sama lain. Salahsatu hal yang perlu diperhatikan adalah pelestarian kebudayaan negeri kita sendiri, sebagian besar pemuda yang seharusnya menjadi generasi penerus pelestarian kebudayaan, justru merasa malas untuk membudayakan budayanya sendiri. Rasa malas ini timbul karena banyak diantara mereka berpendapat bahwa mengembangkan budaya itu dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan tidak memiliki prospek yang baik, namun pada kenyataannya, pengembangan budaya memiliki prospek yang baik, karena banyak negara di luar yang mengagumi kebudayaan kita, sehingga pengembangan budaya dapat mendatangkan profit yang besar untuk negara.
Dari beberapa hal yang sebelumnya, kita dapat menyimpulkan, untuk menghadapi tindakan yang mengganggu dari negara lain, tidak harus dihadapi dengan kekerasan tetapi dapat dihadapi dengan langkah diplomatis. Namun langkah diplomatis tidak menutup terjadinya kekerasan atau perang, apabila keadaannya cukup mendesak maka akan dimungkinkan terjadinya perang. Perang atau kekerasan adalah jalan terakhir bukan jalan utama. Kesimpulan yang lainnya adalah, kita harus mempublikasikan keuntungan-keuntungan yang didapat jika kita mengembangkan kebudayaan bangsa kita.

Referensi:
- Wikipedia.com

Leave a Reply